Jumat, 26 April 2013

Kode Warna

Kode Warna Colours Code
Fhoto oleh Thamizhpparithi Maari di commons.wikimedia.org


Berikut adalah Kode Warna yang dapat teman-teman manfaatkan untuk keperluan design, dan terkhusus saya posting buat editing warna pada blog teman-teman.








darustelake.blogspot.com

Terima kasih kepada Mas Dalang (situseo.blogspot.com) atas kode script-nya. Terakhir, buat para teman-teman bloger, tetaplah bersemangat dalam nge-blog yang bermanfaat.

Oleh : Darus Attalaki



Senin, 22 April 2013

Lahirnya Sang Buah Hati

Bismillah.

Artikel kali ini merupakan artikel yang secara khusus saya tulis berkaitan dengan lahirnya putri kami yang pertama. Setelah mengandung sekitar 9 bulan lebih, tertanggal 03 Jumadats Tsaniyah 1434 (14 April 2013) yang lalu putri kami lahir dengan kondisi sehat dan dalam keadaan normal, Alhamdulillah.

Berkaitan dengan kelahiran anak, maka syariat Islam yang mulia ini telah memberikan beberapa tuntunan, sebagaimana hadits dari Samurah bin Jundub radliyallaahu ’anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda :

Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”.[1]

Alahamdullih, tepat pada hari ketujuh kami mampu menyembelih seekor kambing yang baik. Semoga Allah Ta'ala menambahkan rizki yang barokah dan kebaikan yang banyak kepada Pak De Mardi yang telah membelikan seekor  kambing secara khusus untuk 'aqiqah putri kami.

Adapun mencukur rambut telah kami lakukan juga pada hari ketujuh. Berbekal sebuah gunting, cukup menegangkan juga saat mencukur si kecil, mengingat kepalanya yang masih cukup lembek pada bagian-bagian tertentu. Meskipun demikian, kami tetap berusaha menjalankan salah satu sunnah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam yang satu ini.

Berkaitan dengan pemberian nama, Alhamdulillah kami telah memilihkan sebuah nama yang cukup baik untuk putri kami. Sebuah nama yang memiliki makna yang sangat baik. Dan nama ini mewakilkan  harapan kami untuk putri kami tercinta.


Buah Hati
Nama putri kami.
"Hanifah". Sebuah nama yang terinspirasi dari salah seorang Tabi'in, seorang imam Mahdzab, beliau adalah Nu'man bin Tsabit. Dikenal juga dengan Imam Hanafi, dan yang mahsyur beliau dikenal dengan Abu Hanifah. Dan dari Kunyah beliau-lah kami terinspirasi nama tersebut. Semoga Alloh Ta'ala me-rahmati beliau.

Adapun makna dari kata "Hanifah" adalah:
- Wanita yang bertauhid.
- Wanita yang lurus agamanya.
- Bisa juga wanita yang mudah menerima kebenaran/hatinya condong pada kebenaran.

Syukron kepada Ust Muflih Safitra atas penjelasan makna dari kata "Hanifah". Semoga Alloh Ta'ala memberikan ilmu yang barokah kepada beliau.

Demikian postingan kali ini, semoga menambah kebaikan bagi kita semua.

Oleh : Darus Attalaki

------------------------
[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2837-2838; At-Tirmidzi no. 1522; An-Nasa’i no. 4220; Ibnu Majah no. 3165; Ahmad 5/7,12,17,22; dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/196, Maktabah Al-Ma’arif, Cet. 1/1419, Riyadl. (Sumber Hadits)



Jumat, 12 April 2013

Bersabar di Atas Sunnah, Ust Mahfudz Umri (Dauroh Jumadats Tsaniyah 1434 / Mei 2013)

Bismillah.

Insya Alloh akan diadakan dauroh dikota Balikpapan.


Bersabar di Atas Sunnah, Ust Mahfudz Umri (Dauroh Jumadats Tsaniyah 1434 / Mei 2013)
Klik gambar untuk memperbesar.
Keterangan gambar :

1. Tema : Manhaj Ahlussunnah dalam Mensucikan Hati
    Waktu : Ba'da Magrib, Jum'at 22 Jumadats Tsaniyah 1434 (3 Mei 2013)
    Tempat : Masjid Istiqomah Pertamina


2. Tema : Kedudukan As-sunnah dalam Syari'at Islam
    Waktu : 08.30 s.d Dzuhur, Sabtu  23 Jumadats Tsaniyah 1434 (4 Mei 2013)
    Tempat : Masjid Istiqlal (Samping Stadion Persiba)

    Tema : Keistimewaan Ahlussunnah Waljama'ah
    Waktu : Bada Magrib -20.30, Sabtu  23 Jumadats Tsaniyah 1434 (4 Mei 2013)
    Tempat : Masjid Namirah (Balikpapan Baru)

3. Tema : Prinsip Dasar Ahlussunnah Waljama'ah
    Waktu : 08.30 s.d Dzuhur, Minggu 24 Jumadats Tsaniyah 1434 (5 Mei 2013)
    Tempat : Masjid Al Imam An Nasa'i  (Seberang Sepinggan Pratama)

    Tema : Menuju Surga Bersama Keluarga
    Waktu : Bada Magrib -20.30, Minggu 24 Jumadats Tsaniyah 1434 (5 Mei 2013)
    Tempat : Masjid Namirah (Balikpapan Baru)



Kamis, 11 April 2013

Pembatasan Pembelian BBM di Balikpapan

Bismillah.

Selama ini bagi kita yang sering mengisi bensin untuk motor pribadi, mungkin agak sedikit dongkol jika mengantri BBM di pom bensin (SPBU). Penyebabnya tidak lain karena panjangnya antrian dan ditambah lagi dengan banyaknya motor-motor besar yang juga ikut mengantri. Umumnya motor-motor besar tersebut, mengantri untuk "ngetap" bensin. Tujuannya adalah bensin tersebut di beli di SPBU kemudian dijual lagi di pinggir-pinggir jalan.

Di sisi yang lain, para PKL bensin tersebut juga dibutuhkan keberadaannya. Dimana ada kondisi-kondisi yang membuat kita akan sangat tertolong dengan adanya para PKL bensin. Seperti ketika seseorang tiba-tiba kehabisan bensin di tengah jalan. Terkadang juga ada keperluan yang membutuhkan waktu cepat untuk menuju ke suatu tempat, sehingga tidak punya waktu untuk mengantri di SPBU. Atau daerah-daerah yang cukup jauh dari SPBU, maka PKL bensin merupakan salah satu solusi bagi pengguna kendaraan bermotor.


SPBU
SPBU Kebun Sayur Balikpapan.
Melihat dua kasus di atas, secara pribadi saya bersyukur kepada Alloh -Alhamdulillah- atas keluarnya surat dari Wakil Walikota Balikpapan. Dimana dilakukannya pembatasan pembelian BBM bersubsidi terhitung mulai tanggal 27 Jumadal Ula 1434H (08 Maret 2013)  , berikut rinciannya :

1. Kendaraan Roda Dua maksimal Rp 25.000,-/hari,
2. Kendaraan Roda Empat maksimal Rp 120.000,-/hari,
3. Kendaraan Roda Enam keatas maksimal Rp 350.000,-/hari.

Adapun pembatasan ini dikecualikan bagi Kendaraan Penumpang Umum, Mobil Ambulans, Mobil Jenazah, Mobil Pemadam Kebakaran dan Mobil Pengangkut Sampah. Kendaraan-kendaraan tersebut dapat membeli BBM sesuai dengan kebutuhan. Dan sebagai tambahan informasi untuk Kendaraan Roda Enam ke atas jadwal penjualan BBM baru dapat dilayani jam 22.30 s/d 06.00 WITA -insya Alloh-.

Semoga informasi ini bermanfaat.

Oleh : Darus Attalaki



Rabu, 10 April 2013

Mengatasi "Couldn't Load Plug-in." pada Google Chrome

Bismillah.

Couldn't Load Plug-in.

Pernah menemukan tulisan diatas? Bagi yang pernah mengalami masalah ini mungkin akan sedikit kesal. Kejadian yang saya alami, kalimat "Couldn't Load Plug-in." muncul pada saat membuka  youtube. Dimana ketika akan menonton sebuah video yang bermanfaat seperti kajian-kajian ahlussunnah, kalimat tersebut muncul dan akibatnya, kita tidak akan bisa menonton video tersebut. Selain itu kadang juga muncul pada situs-situs atau blog-blog tertentu yang menggunakan flash.

Untuk mengatasinya, ikuti langkah-langkah berikut ini :
1. Ketikkan kata chrome://plugins/ atau chrome://plugins/ pada kotak URL, lalu Enter.
2. Cari plug-in "Adobe Flash Player". Klik kata " Disable" hingga menjadi " Enable".


Couldn't Load Plug-in

Setelah menyelesaikan dua langkah di atas silahkan uji coba di youtube.

Demikian, semoga bermanfaat.

Oleh : Darus Attalaki
Sumber : darustelake.blogspot.com

--------------------------------------------
Browser saya : Chrome versi 23.0.1271.64 & OS saya : Linux Mint 13 Maya



Cara Kompres Mp3 di Linux dengan Audacity

Bismillah.

Dalam sebuah hadits yang masyhur dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,

Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya”. [HR. Muslim]

Salah satu amal jariah yang dapat kita lakukan adalah dengan meng-upload rekaman-rekaman kajian atau murotal-murottal di internet. Karena ketika kita telah tiada dari dunia ini, Insya Alloh file-file yang kita share tersebut, tetap dapat di gunakan oleh orang lain sehingga menjadi ilmu yang dimanfaatkan. Namun karena besarnya file yang harus di-upload maka pekerjaan tersebut menjadi sedikit ribet.

Cara Kompres Mp3 di LinuxBagaimana solusinya? Gunakanlah Audacity, sebuah aplikasi multi fungsi untuk keperluan editing audio. Nah, untuk kali ini saya hanya akan memberikan tips bagaimana caranya melakukan kompres file-file audio/mp3 dengan mudah sekali. Sehingga dengan ini akan memperkecil ukuran file yang akan kita upload. Tips ini bukan khusus buat pengguna Linux saja, karena selain di linux, komputer yang ber-platform Windows dan Mac-pun juga dapat menikmati aplikasi gratisan ini. Ok, langsung saja tapi sebelumnya kalian harus miliki aplikasinya terlebih dahulu, silahkan download disini.

Berikut langkah-langkahnya.
1. Buka Audacity.
2. Tekan Ctrl + O untuk memasukkan file audio.
3. Setelah itu buka menu File-->Eexport.
4. Pilih Options, pilih kbps yang kecil dari angka aslinya. Tekan Save, tunggu beberapa waktu.

Demikian tips kali ini, semoga bermanfaat, baarokallahu fiykum.

Oleh : Darus Attalaki
Sumber : darustelake.blogspot.com



Minggu, 07 April 2013

Welcome To Criminal, Kisah Abu Fahd (1~4)

Abu Fahd Negara Tauhid
Fhoto oleh Liam Quinn di flickr.com.
BAGIAN 1 (153 Malam)

Sore itu ana turun dari sebuah angkot di kota Bogor sambil membawa tas punggung (daypack) yang penuh dengan barang belanjaan dan menenteng sebuah dus karton yang juga berisikan barang belanjaan. Kali ini ana berbelanja kebutuhan toko tanpa membawa kendaraan pribadi alias motor, ana lebih suka dengan berjalan kaki atau menaiki kendaraan umum sambil membawa beban berat, hitung-hitung sambil berolah raga agar stamina bisa selalu terjaga. Beban yang ana bawa kali ini lumayan berat sekitar 15 kg di tas dan 10 kg ditentengan, hampir menandingi beban yang ana bawa tatkala mendaki gunung. Namun itu tidak masalah bagi ana karena hal itu sudah menjadi kebiasaan ana, apalagi jika sewaktu-waktu ada panggilan mendadak untuk mendaki gunung ana tidak akan kaget nantinya.

Setelah ana turun dari angkot, ana melihat sebuah bangunan tua yang besar dan penuh misteri. Di depan bangunan tersebut ada keramaian manusia seperti penjual makanan, tukang becak, para pekerja atau petugas, dan orang-orang yang berjalan hilir mudik melewati bangunan tersebut. Ana berhenti sejenak menatapi bangunan itu, seolah-olah seperti terhipnotis akan sebuah pemandangan yang penuh misteri bagi diri ana. Itulah Lapas atau Penjara Paledang yang berdiri di tengah kota Bogor. Sering sekali ana melewati penjara tersebut, karena setiap ana pergi belanja ke Bogor ana selalu melewatinya, hampir setiap pekan sekali. Dan jika ana melihatnya selalu muncul banyak pertanyaan dalam hati ana, seperti apakah suasana di dalam penjara itu? Seperti apakah para penghuni-penghuninya? Apa saja yang dilakukan oleh para penghuninya di dalam penjara itu? Apa yang mereka lakukan hingga mereka bisa masuk ke dalam penjara tersebut? Akankah ana kelak akan merasakan penjara itu? Bagaimana jadinya jika ana masuk ke dalamnya? Apakah orang-orang yang masuk ke dalam penjara itu adalah orang-orang yang bersalah semua? Dan segudang pertanyaan lainnya yang tidak terjawab. Hanya saja ana menyakini bahwa tidak semua orang-orang yang berada di dalam penjara tersebut adalah orang-orang yang bersalah atau penjahat, karena mungkin ada dari mereka yang tidak bersalah atau terfitnah. Pastinya, di dalam penjara tersebut terdapat banyak penjahat-penjahat besar seperti yang kita saksikan di televisi. Suatu tempat yang penuh misteri dan mengerikan bagi ana. Cocok sekali dijadikan sebagai tempat untuk uji nyali bagi orang yang ingin mengetes seberapa besar nyalinya. Namun sangat aneh jika ada orang yang ingin uji nyali malah mendatangi kuburan atau tempat-tempat angker lainnya?! Penjaralah tempat terbaik untuk uji nyali, siapapun orangnya, bahkan penjahat besar sekalipun tidak akan berdaya ketika dia masuk ke dalam penjara, seolah-olah dia berubah menjadi kecil seperti anak kucing.

Ana pun berlalu meninggalkan bangunan tua tersebut, menghapus semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak ana tentang bangunan tersebut. Sambil meninggalkan penjara Paledang, ana berharap semoga ana tidak menjadi penghuninya di suatu saat kelak. Ana tinggalkan penjara itu sambil menuju ke stasiun Bogor, karena jarak antara penjara Paledang dengan stasiun Bogor sangat berdekatan sekali. Tidak lama ana pun sampai di stasiun Bogor dan kembali pulang menuju rumah dengan menaiki kereta api tujuan Bojonggede. Pikiran ana tentang penjara itu hilang seketika terhapus kesibukan ana. Hingga akhirnya Allah menakdirkan ana dengan sebuah musibah yang membuat ana harus bermalam di dalam penjara selama 153 malam atau 5 bulan.

Rupanya apa yang pernah ana tanyakan di dalam benak ana tentang penjara terjawab semua. Pertanyaan-pertanyaan ana semuanya dijawab oleh ana sendiri. Terasa seperti mimpi musibah yang ana alami. Karena ana tidak menyangka sama sekali akan merasakan kehidupan di dalam penjara tersebut selama beberapa bulan, kehidupan yang belum pernah alami, kehidupan yang tidak terduga sebelumnya, apa yang ana khawatirkan rupanya terjadi juga. 153 malam adalah waktu yang tidak sebentar dan penuh cerita serta pengalaman yang panjang. Pada kesempatan ini ana berusaha untuk berbagi cerita dan pengalaman selama ana di penjara. Sebenarnya ana agak kesulitan untuk menceritakan pengalaman ana ini, namun dikarenakan banyaknya desakan dari teman-teman agar ana mau menceritakan dan berbagi pengalaman, maka ana akan berusaha untuk sedikit berbagi pengalaman ana selama di penjara, dan semoga saja ada hikmah dan pelajaran dari pengalaman ana ini untuk kita semua, insya Allah. Di cerita ini ana tidak akan membahas kasus yang ana alami, yang ana bahas disini hanya seputar pengalaman ana selama di penjara. Jika ada dari teman-teman yang belum tahu tentang kasus yang ana alami, silahkan cari sendiri di internet (khususnya google), disana banyak berita tentang kasus yang ana alami, cukup ketik kata kunci di google: “Abu Fahd”, niscaya akan mendapatkan berita tentang kasus yang ana alami.

Bersambung insya Allah….





BAGIAN 2 (Welcome to Criminal)

Hari itu ana resmi ditahan di sebuah Rutan (Rumah Tahanan) di salah satu Polres. Ana terjerat kasus pencemaran nama baik seorang Habib dan Undang-undang ITE. Setelah ana selesai menandatangani Surat Penahanan, ana pun dibawa oleh salah seorang penyidik (polisi) menuju kamar tahanan yang tidak jauh dari ruangan tempat ana diproses. Berat langkah ana menuju kamar tahanan tersebut, sedangkan hati saat itu terasa berdebar-debar karena sesaat lagi ana akan merasakan suatu kehidupan yang belum pernah ana rasakan seumur hidup ana, kehidupan yang dapat merubah segalanya, kehidupan yang hanya ada di angan-angan, namun sesaat lagi akan menjadi kenyataan. Adapun keluarga ana, yaitu istri, orangtua dan kedua anak ana yang masih kecil tampak sedih mengiringi langkah ana menuju kamar tahanan itu. Ana berusaha untuk tenang dan tidak menampakan kesedihan agar keluarga ana tidak semakin larut dalam kesedihannya. Ana tidak membawa apapun ke ruang tahanan, yang ana bawa hanya pakaian yang menempel di badan.

Akhirnya sampailah ana di depan kamar tahanan. Kamar tahanan itu dijaga oleh beberapa petugas polisi. Penyidik yang membawa ana memberikan surat penahanan kepada petugas tersebut. Setelah itu sang petugas memberitahukan kepada ana tentang segala peraturan di dalam kamar tahanan, diantaranya adalah pakaian yang boleh dibawa masuk maksimal 2 stel yaitu 1 stel yang menempel di badan dan 1 stel yang disimpan, tidak boleh memakai baju lengan panjang dan celana panjang (termasuk sarung), jadi wajib memakai celana pendek, dilarang memiliki uang, alat komunikasi (termasuk hp), merokok, memakai alas kaki, senjata tajam atau yang dapat melukai (seperti besi, pecah belah), berkelahi, dsb. Petugas menyuruh membuka jaket dan celana panjang yang ana kenakan sekaligus memeriksa seluruh badan ana. Ana katakan kepada petugas, “Bagaimana saya shalatnya pak?” Petugas menjawab, “Kamu pakai celana pendek, ini peraturan dan darurat, kalau kamu tidak punya celana pendek maka celana panjang kamu akan saya gunting jadi celana pendek!” “Baik pak, saya punya celana pendek…” jawab ana, untung saja ana memakai celana pendek untuk dalaman yang panjangnya dibawah lutut, sehingga ana masih bisa menutupi paha dan lutut ana. Tinggallah kaos dan celana pendek yang ana miliki saat itu sebagai bekal selama ana di dalam tahanan. Ana sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang ana miliki, yang ana pedulikan saat itu adalah keselamatan untuk diri ana dan keluarga ana yang ditinggalkan. Selama ini ana hanya mendengar tentang cerita atau pengalaman orang yang masuk penjara berupa cerita-cerita yang menakutkan dan menyedihkan, cerita yang tidak jauh dari penindasan dan pemerasan. Akankah hal itu ana alami sesaat lagi?

Petugas mengantar ana sampai ke depan pintu kamar tahanan, pintu yang terbuat dari jeruji besi yang tergembok besar. Petugas membuka pintu itu dan menyuruh ana masuk ke dalamnya. Ana pun memasukinya dan pintu itu ditutup kembali. Ana telah pasrah terhadap apa yang akan terjadi pada diri ana nanti. Ana sekarang sudah berada di dalam sebuah kehidupan yang selama ini hanya angan-angan dan hanya ana lihat di media atau film saja. Ana akan hidup bersama para penjahat-penjahat dan tinggal bersama mereka entah sampai kapan, padahal selama ini ana selalu menjauhi dan membenci perbuatan mereka. Suasana mulai terasa menyeramkan dan menegangkan. Ana langkahkan kaki ini pelan-pelan untuk masuk ke dalam kamar tahanan itu. Masih berupa lorong yang panjangnya hanya beberapa meter saja. Rupanya masih ada pintu jeruji besi lagi yang harus ana masuki di dalam lorong itu untuk menuju ke dalam kamar tahanan. Ana pun menghampiri pintu itu untuk mengetahui isi dibalik pintu tersebut.

Ketika ana mendekati pintu tersebut, rupanya dibalik pintu itu sudah dipenuhi oleh para tahanan yang telah menanti kedatangan ana. Jumlah mereka sangat banyak, ada sekitar 50 orang lebih. Mereka memenuhi disetiap sisi untuk melihat dan menyambut kehadiran ana. Ana melihat wajah-wajah mereka sangat menyeramkan, ....... Mereka memasang wajah yang sedang marah dan menakut-nakuti, sama sekali tidak ada kesan ramah, apalagi senyuman. Mata-mata mereka melotot menatapi ana seolah-olah ana adalah santapan mereka. Ditambah lagi hal yang sangat menegangkan adalah, mereka semua mengeluarkan suara-suara teriakan dan kata-kata kotor atau umpatan, seolah-olah mereka akan mengeksekusi ana. Seperti masuk ke dalam kandang binatang buas, atau hutan belantara, bahkan menurut ana ini lebih menyeramkan dari hutan belantara. Ana sudah terbiasa masuk ke dalam hutan belantara dalam segala kondisi, ketika malam hari, hujan deras, sendirian, dan lainnya, tapi tidak menyeramkan seperti ana masuk ke dalam kamar tahanan ini. Suasana saat itu begitu berisik karena teriakan-teriakan mereka yang menakut-nakuti ana, juga mengumpat atau mencela ana dengan kata-kata kotor dan penghinaan. Sekilas ana perhatikan wajah-wajah mereka, terlihat wajah-wajah yang tidak bersahabat, terkesan angker, gelap (tidak bercahaya). Kebanyakan dari mereka tubuh-tubuhnya dipenuhi oleh tatto, dari badan, tangan maupun kaki, bahkan ada yang seluruh tubuh (kecuali wajah). Karena tatto bagi mereka (narapidana atau penjahat) adalah hal yang biasa, sebagian mereka menganggap tatto adalah karya seni, dan sebagian lagi menganggap tatto agar berkesan macho atau seram. Tubuh mereka juga besar-besar, banyak yang lebih besar tubuhnya dari ana, layak seperti seorang preman atau bodyguard, atau memang mereka preman asli.

Kejadian ini benar-benar menguji nyali ana. Baru kali ini ana berhadapan dengan para narapidana atau penjahat. Dalam pikiran ana hanya ada dua opsi, yaitu: Pertama, melawan mereka dengan resiko ana bakalan babak belur oleh mereka karena perbandingannya adalah satu banding lima puluh, itu adalah opsi yang konyol menurut ana, walaupun opsi ini terkesan menantang dan lebih berani. Opsi kedua, yaitu tunduk mengalah dan mengikuti mereka demi keselamatan. Opsi ini menurut ana terlalu memalukan bagi seorang laki-laki yang punya harga diri, kenapa harus tunduk kepada orang-orang zhalim seperti mereka?! Namun apa daya saat itu ana tidak memiliki kemampuan memilih opsi yang pertama. Apakah ada opsi yang lain? Opsi ketiga adakah? Opsi ketiga adalah kabur dari mereka. Opsi ini sangat mustahil dilakukan. Bagaimana caranya agar bisa kabur dari mereka? Tidak ada jalan untuk melarikan diri dari mereka, semua tertutup oleh tembok dan jeruji besi. Ana pun mencoba untuk mencari opsi yang lain, yaitu opsi yang keempat, perpaduan antara opsi pertama dengan opsi kedua, yaitu mengalah dan mengikuti mereka selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat, seandainya mereka menyuruh ana untuk berbuat maksiat, maka ana lihat sesuai kemampuan ana, semoga saja ana mampu menghadapi dan melawan mereka, insya Allah. Tidak lupa juga lisan ana tidak berhenti dari berdzikir kepada Allah agar Allah memberikan perlindungan ke ana.

Kini ana telah berada ditengah-tengah mereka, dan mereka semuanya mengerumuni ana. Ana ucapkan kepada mereka “Assalamu alaikum”, sebagian mereka ada yang menjawab salam ana. Beberapa orang dari mereka membentak ana “Jongkok loe!!…Ayo jongkok!!”. Ana pun mengikuti perintah mereka untuk jongkok. Kemudian mereka menyuruh ana jalan sambil jongkok menuju kamar yang akan ana tempati. Ana pun jalan sambil jongkok melewati mereka menuju kamar. Sambil melewati ana mencoba untuk bersalaman dengan mereka. Sebagian dari mereka ada yang mau bersalaman dengan ana, dan sebagian yang lain menolak bersalaman dengan ana, bahkan mereka membentak “Udah jalan sana!!!” Benar-benar ana dihinakan di hadapan mereka. Namun sampai saat itu belum ada yang ‘mencolek’ ana. Sambil jalan jongkok, ana melewati mereka satu persatu, mereka tidak henti-hentinya membentak ana, ana hanya mampu melihat kebawah dan tidak melihat wajah mereka (khususnya mata) karena itu sama saja menantang mereka. Disebuah dinding ana lihat sebuah coretan tangan yang tertulis “Welcome to Criminal”.

Sampailah ana di dalam kamar yang akan ana tempati. Sebuah kamar yang tidak begitu luas, hanya berukuran sekitar 5m x 3m, berisikan sekitar 15 sd 20 orang tahanan. Di Rutan yang ana tempati terdapat 4 kamar tahanan, masing-masing kamar diisi 15 sd 20 orang tahanan dari segala macam kejahatan. Sedangkan ana menempati kamar no.3. Ketika ana masuk ke dalam kamar tersebut, ana lihat beberapa orang tahanan yang sedang melakukan aktivitas masing-masing, diantaranya ada yang sedang memijat seseorang layaknya seorang boss (dan itulah kepala kamarnya atau KM), ada juga yang sedang jadi kipas atau baling-baling dengan berdiri sambil mengibaskan sepotong kain seperti baling-baling agar kamar tidak panas, ada juga beberapa orang yang duduk jongkok disudut kamar layaknya seorang yang dihukum, dan yang lainnya mengelilingi ana. Setelah itu ana dihadapkan ke KM (Kepala Kamar) untuk diintrogasi. Beberapa tahanan yang senior menemani KM mengintrogasi ana. Mereka mengintrogasi ana dengan kasar, namun tidak sampai memukul. Mereka menanyakan semuanya tentang ana, dari indentitas sampai kasus yang ana alami. Hingga mereka semua tahu tentang jati diri ana dan kasus yang ana alami yaitu pencemaran nama baik seorang Habib. Biasanya setiap tahanan yang masuk dan diintrogasi akan mengalami penindasan dari penghuni kamar, namun Alhamdulillah sampai sejauh ini belum ada seorang pun yang memukul ana.

Salah seorang dari mereka menyuruh ana untuk membuka baju/kaos yang ana pakai. Awalnya ana keberatan untuk membuka baju ana, dan ana memberanikan diri untuk menolak perintah mereka khawatir ana akan dizhalimi oleh mereka jika ana membuka baju. Tapi mereka tetap memaksa ana untuk membuka baju, dan ana tetap bersikap untuk menolaknya, apalagi itu hanya satu-satunya baju yang ana miliki saat ini. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kami mau lihat loe ada tattonya apa tidak!” Rupanya itu alasan mereka kenapa mereka menyuruh ana membuka baju. Ana pun akhirnya bersedia membuka baju, dan ana perlihatkan badan ana ke mereka kalau ana tidak memiliki tatto, kemungkinan jika ana memiliki tatto akan ada hadiah dari mereka untuk ana berupa “bogem mentah”. Mereka pun percaya kalau ana tidak memiliki tatto, tapi mereka malah mengambil kaos ana, padahal kaos tersebut adalah kaos yang ana sukai yaitu kaos dari komunitas pecinta alam. Ana tanya kenapa kaos ana diambil? Mereka menjawab, kaos tersebut mau dicuci dulu (dikira mereka kaos itu kotor) dan mereka memberikan kaos yang lain ke ana untuk dipakai. Tidak masalah bagi ana, ana pun memakai kaos pemberian mereka.

Selang beberapa menit kemudian, masuk “Kijang Baru” (Tahanan Baru) ke dalam kamar kami, dia terkena kasus Narkoba. Tidak beda dengan apa yang ana alami tatkala dia masuk ke dalam kamar tahanan, disuruh jalan jongkok, dibentak-bentak, diintrogasi, dll. Kijang Baru itu ditempatkan di sebelah ana dengan posisi jongkok di lantai. Kemudian KM menyuruh ana untuk pergi atau pindah ke ruangan lain, dan membiarkan kijang Baru itu berada di tempatnya. Tidak tahu apa maksud mereka menyuruh ana pindah ke ruangan lain, tapi untuk sementara ana ikuti kemauan mereka. Setelah ana berada di ruangan yang lain, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras seperti suara pukulan, berulang-ulang suara pukulan itu terdengar. Ana menyangka bahwa Kijang Baru itu sedang ‘Disekolahkan’ oleh mereka. Setelah selesai mereka menyekolahkan Kijang baru itu, ana pun disuruh kembali ke kamar semula. Ketika ana masuk ke dalam kamar, ana lihat Kijang Baru itu sedang terkapar di lantai kesakitan akibat ‘Disekolahkan’ oleh mereka. Ana merasa iba melihatnya, tapi inilah penjara. Ana bersyukur kalau ana tidak mengalami kejadian itu, Alhamdulillah.

Tidak beberapa lama masuk waktu shalat maghrib. Serentak para tahanan mempersiapkan diri untuk shalat maghrib, dan ada juga beberapa dari mereka yang tidak shalat karena malas. Shalat maghrib kala itu diimami oleh seorang ustadz yang disegani di Rutan ini, sesama tahanan juga. Dia lah ustadz yang terkena kasus menikahi wanita dibawah umur dan tanpa wali, pesantren yang dia miliki pernah dibakar oleh massa, inisialnya adalah ust.FA. Posisi ana shalat berada di shaf pertama tepat dibelakangnya imam. Setelah shalat seperti biasa sang imam melakukan amalan-amalan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan masyarakat di kita, yaitu dzikir jama’i, doa jama’i, dan salam-salaman. Dikarenakan ana tidak melakukan amalan-amalan seperti itu, maka ana cukup mengamalkan apa yang ana amalkan sendiri. Rupanya diam-diam sang imam memperhatikan apa yang ana lakukan, dan dia merasa kecewa kalau ana tidak mengikutinya. Setelah selesai, sang imam atau ust. FA menegur ana kenapa ana tidak mengikutinya? Ana katakan bahwa ana hanya mengamalkan apa yang ana tahu dalilnya dan biasa ana amalkan. Mendengar jawaban seperti itu ust.FA marah dan berkata, “Biasanya yang tidak mau dzkir mengeraskan suara dan jama’i, tidak mau berdoa mengangkat tangan, dll itu adalah aliran Wahhabi, aliran Salafi, sesat!!!” Ana kaget mendengar ucapan ust.FA. Dia pun berkata lagi dengan suara keras dan marah di depan seluruh jamaah atau tahanan, “Saya tahu kasus yang kamu lakukan. Kamu telah menghina Habib Fulan! Dia itu ulama, keturunan Nabi! Kamu jangan berdusta di tempat ini yang membuat kamu akan semakin bermasalah… Sekarang kamu mau tahu, kalau saya adalah murid dari Habib Fulan yang kamu cemarkan!!! Berarti kamu juga telah menghina guru saya!!” Ust. Fulan terus memprovokasi jama’ahnya dan memfitnah ana, sehingga suasana saat itu semakin ramai. Seluruh tahanan berdatangan mendatangi kami menyaksikan apa yang sedang terjadi, dan mereka semuanya mengelilingi ana. Ana saat itu tidak mampu bertindak dan hanya mendengarkan ucapan ust.FA yang terus memprovokasi jama’ah sehingga semua tahanan menjadi marah dan mendukung ust.FA. Suasana semakin gaduh dan ramai, suara-suara teriakan mulai terdengar seperti kejadian ketika ana masuk tahanan. Para tahanan sudah sangat emosi dan marah terhadap ana, mereka berteriak-teriak ingin menghabisi ana. “Ayo hajar saja!…Bunuh saja! Awas ini aliran sesat! Cepat habisi orang ini!!!” dan ucapan-ucapan lainnya. Kondisi ana semakin tegang, ana pasrah terhadap apa yang akan terjadi pada diri ana. Puluhan orang tahanan siap menyantap ana pada saat itu. Hanya kepada Allah saja ana berlindung dan meminta pertolongan kala itu…

Ibarat keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Selamat dari level pertama di dalam kamar tahanan, sekarang masuk ke level kedua, akankah ana selamat pada saat itu? Ana tidak menyangka akan bertemu salah seorang dari murid Habib Fulan yang ana cemarkan di dalam tahanan ini. Apalagi ustadz tersebut memiliki sifat yang arogan dan memanfaatkan kondisi yang mendukung. Ana tidak menyangka setega itu dia bersikap terhadap ana. Ust.FA adalah orang yang disegani oleh para tahanan, sehingga jika dia meminta sesuatu kepada salah seorang tahanan akan dituruti dan ditaati. Sekarang dia siap untuk menghabisi ana dengan fitnahnya dan kezhalimannya. Dan semua tahanan mendukung ustadz tersebut…

Kondisi semakin parah, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Waktu berjalan tidak sesuai dengan apa yang ana inginkan. Ana tinggal menunggu detik-detik penghabisan…pasrah terhadap kejadian ini…tidak ada yang dapat menolong ana saat itu kecuali Allah Azza wa Jalla…akankah nasib ana akan seperti Kijang Baru itu yang terkapar kesakitan?

Bersambung, insya Allah…





BAGIAN 3 (Malam Pertama di Bui)

Kondisi semakin parah, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Waktu berjalan tidak sesuai dengan apa yang ana inginkan. Ana tinggal menunggu detik-detik penghabisan…pasrah terhadap kejadian ini…tidak ada yang dapat menolong ana saat itu kecuali Allah Azza wa Jalla…akankah nasib ana akan seperti Kijang Baru itu yang terkapar kesakitan?Adapun ust.FA seperti sudah diatas angin, dia telah berhasil memprovokasi para tahanan dengan fitnah-fitnahnya, sehingga para tahanan semakin membenci ana. Dia bahas segala perbedaan-perbedaan pemahaman dan amalan agar semakin memperkeruh suasana, selain itu juga dia sebarkan fitnah-fitnah terhadap pemahaman ana yang dituduh sebagai Wahhabi agar manusia menjauhi pemahaman tersebut dan menganggapnya sebagai pemahaman sesat dan menyesatkan. Ana masih banyak diam di hadapannya, karena bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengannya saat ini. Padahal dia selalu memancing-mancing perdebatan agar kami saling berdebat dan disaksikan oleh seluruh tahanan, namun ana berusaha menghindari perdebatan dengannya dengan mengalihkan pembicaraan. Tapi tetap saja ust.FA tidak mau menyudahi orasinya.

Suasana di dalam tahanan semakin heboh oleh teriakan-teriakan penghuni tahanan. Terus terang ana merasa kasihan kepada para tahanan di dalam, mereka sangat awam terhadap agamanya sehingga mudah sekali dibodoh-bodohi dan diprovokasi oleh seseorang. Seandainya mereka dibimbing oleh seseorang yang bersih aqidahnya, maka betapa beruntungnya mereka, namun sayangnya mereka malah dibimbing oleh seseorang yang memusuhi sunnah dan banyak melakukan kebid’ahan, sehingga mereka malah semakin jauh dari agamanya.

Ana memperhatikan wajah-wajah mereka, semuanya terlihat marah dan tidak bersahabat. Ana berharap diantara mereka ada satu orang yang mau membela ana, atau mau memperlihatkan senyuman ke ana sebagai tanda persahabatan. Namun ana tidak menemukannya sama sekali. Ana menyangka telah salah masuk kamar. Atau berharap apa yang ana alami saat ini adalah mimpi, namun ana tidak mampu untuk terjaga dari mimpi ini. Akhirnya ana akui kalau kejadian ini adalah sebuah kenyataan yang harus ana hadapi. Ana pun menyadari bahwa ini adalah salah satu dari takdir yang telah Allah tetapkan untuk ana. Dan ana harus mampu melaluinya, walaupun hanya sendirian. Ana teringat sebuah kalimat yang berbunyi: “Hasbunallah wa ni’mal wakiil” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Kata sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,



إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563).

Disaat kondisi semakin panas, tiba-tiba masuk seorang petugas lengkap dengan pakaian dinasnya ke dalam kamar tahanan. Petugas tersebut masuk karena ingin tahu apa yang sedang terjadi di dalam, sekaligus mengantisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Petugas itu menyaksikan apa yang sedang kami lakukan. Ana sedikit merasa lega akan kehadiran petugas tersebut, semoga dengan datangnya petugas tersebut keadaan menjadi kondusif, dan ana bisa terlindungi. Namun lagi-lagi keadaan tidak sesuai dengan yang ana harapkan. Apakah yang terjadi kemudian? Petugas tersebut malah mendukung ust.FA!!… Bahkan petugas tersebut ikut-ikutan mencela dan menyalahkan ana. Benar-benar ana semakin terpojokan di dalam kamar tahanan ini. Adapun ust.FA malah semakin senang karena mendapat dukungan dari petugas. Akhirnya ust.FA memanfaatkan kondisi seperti ini untuk mengajak debat dan menelanjangi pemikiran ana. Dalam perdebatan, ust.FA banyak mengeluarkan dalil-dalil yang dihafalnya, beliau pun fasih dalam berbahasa Arab, mahir dalam berceramah dan memiliki banyak massa. Keadaan seperti inilah yang akhirnya memaksa ana untuk ber’Tauriyah’. Tauriyah adalah keinginan seseorang dengan ucapannya yang berbeda dengan zhahir ucapannya. Hukumnya boleh dengan dua syarat: pertama, kata tersebut memberikan kemungkinan makna yang dimaksud. Kedua, bukan untuk perbuatan zhalim. Ana melakukan ‘Tauriyah’ ketika ust.FA bertanya ke ana, “Kamu dari golongan Islam yang mana?” Sebelum ana menjawab, ana berpikir terlebih dahulu, agar jawaban ana tidak semakin mencelakakan ana dan tidak menambah fitnah atas ana. Akhirnya ana pun menjawab, “Saya Muhammadiyah.” Maksudnya adalah pengikut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, dan bukan organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh KH.Ahmad Dahlan. Ana mengatakan bahwa ana adalah Muhammadiyah agar orang-orang memahami bahwa ana dari organisasi Muhammadiyah, suatu ormas yang diakui di negara ini dan tidak tergolong aliran sesat dalam perspektif mereka. Padahal yang ana maksud dari Muhammadiyah adalah pengikut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, seperti halnya makna Salafiyah (pengikut Salafush Shalih), Syafi’iyyah (pengikut madzhab Imam Syafi’i), dan semisalnya.

Tauriyah seperti itu ana lakukan agar tidak menambah fitnah atas diri ana, yang mana kejadian itu disaksikan oleh orang-orang yang sangat awam dalam agama. Mereka hanya mengetahui bahwasanya Islam itu hanya ada dua, yaitu islam dari golongan NU (Nahdhatul Ulama) dan islam dari golongan Muhammadiyah, selain itu tidak ada atau sesat. Seandainya ana menjawab diluar itu, niscaya mereka akan semakin membenarkan perkataan ust.FA bahwasanya ana adalah dari golongan yang sesat. Inilah kenyataan yang terjadi, yang mana mereka masih sangat miskin ilmu, dan ana tidak mau mereka malah menjauhi ana karena menganggap ana sesat, sedangkan ana berusaha untuk mendekati mereka agar bisa mendakwahinya. Masalah tauriyah juga pernah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebelum terjadinya perang Badar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ditemani Abu Bakar ash-Shiddiq melakukan patroli di seputar kamp militer pasukan Makkah, tiba-tiba beliau bertemu dengan seorang laki-laki tua dari bangsa Arab, beliau bertanya kepadanya tentang orang-orang Qauraisy, Muhammad dan para sahabatnya. Beliau sengaja bertanya tentang orang-orang Quraisy dan dirinya sendiri untuk mengantisipasi munculnya kecurigaan dari laki-laki tua ini. Laki-laki tua berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun kepada kalian berdua sebelum kalian mengatakan kepadaku dari kabilah mana kalian berdua.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Setelah bapak memberitahu kami maka kami akan memberitahu bapak.” Laki-laki tua menegaskan, “Begitu?” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya.” Pak tua berkata, “Aku mendengar bahwa Muhammad dan para sahabatnya keluar pada hari ini dan itu, jika apa yang aku dengar ini benar maka dia dan para sahabatnya ada di tempat ini dan itu. –Tempat di mana Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bermarkas-. Dan aku juga mendengar bahwa orang-orang Quraisy keluar pada hari ini dan itu, jika apa yang aku dengar ini benar, maka mereka hari ini berada di tempat ini dan itu. –Dia menyebutkan tempat di mana pasukan Makkah berada.” Setelah itu pak tua ini balik bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Dari kelompok mana kalian berdua?” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kami dari maa` (air).” Kemudian beliau meninggalkan pak tua yang bergumam, “Dari maa` apa? Apakah dari maa` (mata air) Irak?Tauriyahnya terletak pada jawaban Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Kami dari maa`.” Kata ini berarti air dan penggunaannya dalam konteks ini untuk makna ini adalah penggunaan yang jauh tetapi inilah yang dimaksud oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maksud beliau, kami dari maa` yakni kami manusia yang berasal-usul dari air (mani) bapak kami. Sementara laki-laki tua ini tidak memahami makna ini, dia memahami maa` adalah sebuah mata air atau suku di Irak. Padahal ini bukan yang dimaksud oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga saja dengan tauriyah yang ana lakukan bisa menyelamatkan ana dari gangguan mereka dengan izin Allah. Alhamdulillah dengan menisbatkan kepada Muhammadiyah, ana lebih mudah menangkis dan membantah ucapan ust.FA. Ana katakan, jika Muhammadiyah itu sesat, niscaya Muhammadiyah sudah dilarang di negara ini, namun kenyataannya Muhammadiyah diakui di negara ini, bahkan banyak dari orang-orang Muhammadiyah yang duduk di MUI. Adapun masalah perbedaan-perbedaan kenapa harus diperbesarkan? (ana mencoba mencari senjata makan tuan). Ust.FA ada menyebutkan hadits “Perbedaan dikalangan umatku adalah rahmat” (adapun ini adalah hadits palsu), beliau memakai hadits tersebut untuk mencela ana karena suka membesar-besarkan masalah perbedaan tentang tawassul atau ziarah kubur, padahal dia sendiri juga membesar-besarkan masalah perbedaan yang ana lakukan, seperti menyalahkan ana yang tidak ikut berdzikir dan berdoa berjama’ah, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Selain itu, kenapa hanya ana yang disalahkan karena tidak ikut berdzikir dan berdoa berjama’ah bersamanya, sedangkan orang-orang yang tidak ikut shalat maghrib berjama’ah bersamanya, bahkan tidak shalat sama sekali tidak disalahkan olehnya? Sebagian juga ada yang setelah shalat langsung pergi meninggalkan jama’ah, namun kenapa tidak disalahkan? Sedangkan ana disalahkan dan dicela hanya karena ana tidak ikut berdzikir dan berdoa bersamanya?!

Di akhir pembahasan ana mulai berargumen sesuai dengan logika mereka, agar mereka bisa memahami apa yang ana maksudkan. Mereka mulai mendengarkan penjelasan dari ana. Suasana sudah tidak seperti awal lagi, karena sudah mulai kondusif. Namun sayang, kejadian tersebut tiba-tiba terhenti oleh masuknya waktu Isya’. Tidak terasa satu jam sudah eksekusi yang membuat ana tegang. Ana pun bisa menghirup nafas kembali. Acara perdebatan pun berakhir dan orang-orang membubarkan diri, termasuk petugas itu. Sebagian dari mereka bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Isya berjama’ah dengan memakai celana pendek dan baju seadanya, begitu juga dengan ana. Pemandangan yang belum pernah ana jumpai sebelumnya, shalat berjama’ah dengan celana pendek, bahkan banyak pula yang celananya sangat seksi yaitu terlihat paha atau auratnya. Shalat Isya itu adalah shalat ana yang kedua kalinya di bui. Dan yang mengimami jama’ah adalah ust.FA karena beliaulah imam rawatib disini.

Setelah kejadian tersebut, ana langsung dikenal dikalangan para tahanan. Setiap ana melewati seseorang, mereka menegur ana “Bang Abu”, begitu juga sebaliknya. Ada juga yang memberi senyuman ke ana, bahkan banyak yang antusias untuk mengobrol dengan ana. Sebagian memanggil ana dengan sebutan ‘Ustadz’, tapi langsung ana cegah dan klarifikasi bahwa ana bukan ustadz. Wajah-wajah mereka mulai berubah tidak seperti sebelumnya, sekarang mulai terlihat bersahabat dan ramah. Mulailah saat itu kami saling berkenalan dan mencoba untuk berkawan. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi ana sekaligus malam pertama di bui, dan akan ana habiskan untuk menyesuaikan diri dengan para tahanan.

Setelah shalat Isya’, jadwalnya kami untuk makan malam. Setiap makan kami berkumpul atau berjama’ah di kamar masing-masing. Penghuni kamar nomor tiga (kamar tempat ana tinggal) semuanya berkumpul tatkala makan. Kami membuat lingkaran dengan posisi duduk dilantai. Setelah itu makan malam pun dibagi-bagikan, masing-masing mendapat jatah satu box nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya. Ana penasaran ingin tahu seperti apa makanan penjara itu, karena selama ini ana hanya mendengar dari kabar berita saja dan belum pernah melihatnya secara langsung. Dan sesaat lagi, ana akan melihat seperti apa makanan penjara itu…makanan yang belum pernah ana rasakan…makanan yang akan membuat ana terkejut melihatnya…

Bersambung -Insya Allah-





BAGIAN 4 (Nasi Cadong)

Malam ini merupakan makan malam pertama ana di bui. Semuanya berkumpul duduk di lantai membuat lingkaran dan saling berhadap-hadapan. Agak tegang rasanya menunggu makan malam kami dibagikan. Ingin segera tahu seperti apa makanan penjara itu, karena selama ini ana hanya mengetahui dari beberapa sumber dan belum melihat langsung. Namun sesaat lagi ana akan melihatnya bahkan akan merasakannya, seperti apa makanan penjara itu yang kata orang ‘menyeramkan’ seperti tempatnya? Tidak lama datang pelayan kamar membawakan beberapa box makanan untuk kami. Setiap orang mendapat jatah 1 box makanan yang isinya terdiri dari nasi, lauk dan sayur. Setelah dibagi-bagikan box makanan tersebut, ana pun melihat isinya, apakah menu makan malam yang akan ana santap? Setelah ana melihatnya, rupanya menunya biasa saja menurut ana, tidak ada yang aneh, hanya saja menunya bukan termasuk menu kesukaan ana, bahkan menu itu adalah menu yang tidak ana suka dan ana enggan memakannya. Makanan yang tidak mengenyangkan karena sedikit ukurannya. Ana pun menyantapnya lantaran saking laparnya. Namun pada suapan pertama ana merasa kaget…rasanya?!….iya rasanya! Rasanya aneh sekali menurut ana. Walaupun menu itu adalah menu yang biasa orang memakannya tapi rasanya sangat berbeda sekali, bahkan ana belum pernah merasakannya. Terasa tidak enak di lidah, bahkan hampir tidak memiliki rasa alias tawar! Ana terus terang tidak berani berkata macam-macam tentang makanan penjara khawatir termasuk mencela makanan. Intinya, makanan tersebut adalah makanan yang memiliki cita rasa yang berbeda sekali dengan makanan normal. Ana pun terpaksa memakannya karena lapar dan tidak ada lagi yang bisa dimakan selain itu. Untungnya ana pernah berlatih dan sedikit memiliki kemampuan survival (bertahan diri) karena ana seorang pecinta alam atau pendaki gunung yang wajib memiliki kemampuan untuk survival, sehingga ana dibutuhkan untuk dapat mengkonsumsi segala sesuatu untuk bertahan hidup, seperti meminum air mentah, memakan makanan dalam kondisi apapun (seperti mentah, tidak enak, dll) selama masih layak dimakan dan halal.

Ana berusaha untuk tidak mengeluh dalam kondisi apapun, begitu juga dalam kondisi memakan makanan penjara. Mau tidak mau ana habiskan makanan tersebut, daripada ana sakit dan lemah jika ana tidak memakannya. Ana anggap ini bagian dari survival yang ana pelajari, bedanya ini di dalam ruangan dan bukan di hutan. Memang terasa berat untuk mengunyah makanan tersebut sehingga ana paksa untuk menelannya secara langsung agar tidak berlama-lama menikmati hidangan yang akan ana konsumsi selama beberapa bulan kedepan. Walaupun ana pernah merasakan hidup serba kekurangan dan pernah juga bergaul dengan orang-orang miskin, namun ana belum pernah memakan makanan yang rasanya seperti makanan bui ini. Bahkan mereka yaitu orang-orang miskin masih lebih baik makanannya dari makanan bui ini (sebatas yang ana ketahui, walaupun banyak juga orang miskin yang sama makanannya atau lebih parah).

Menu yang biasa dihidangkan di Rutan tempat ana ditahan adalah nasi yang berasal dari beras yang mutunya paling rendah atau seperti beras raskin. Kalau untuk lauk seperti ikan lele (kecil), atau tahu sepotong, atau tempe sepotong, atau kerupuk 1 buah, atau bakwan 1 buah, atau telur. Adapun untuk sayur seperti kacang panjang, atau sop, atau kangkung, atau mie. Porsi makanan itu sangat sedikit sekali dan tidak mengenyangkan. Ana terima segalanya dan berusaha untuk bersyukur kepada Allah, karena inilah ujian yang sudah Allah tetapkan untuk ana. Ana anggap ini merupakan teguran untuk ana pribadi, mungkin sewaktu diluar ana terlalu banyak lalai akan nikmat Allah atau terlalu banyak kenikmatan yang telah ana peroleh sehingga ana jauh dan lupa dari kesengsaraan yang bisa saja menimpa kita suatu saat nanti. Ana terima ini semua, ana anggap sebagai balasan atas kelalaian ana selama ini, dan ana jadikan hal ini ujian yang dapat menghapus dosa-dosa ana, jika Allah menghendaki.

Ana teringat ketika istri ana datang membesuk ana di Rutan, setelah ana mengalami dan merasakan makanan di penjara. Ana katakan kepada istri ana, “Mungkin dulu abuya pernah mengeluh atau marah jika mama memasak dan menghidangkan makanan yang tidak abuya suka/bukan selera abuya, atau yang kurang enak rasanya. Abuya meminta maaf atau sikap abuya seperti itu. Abuya berjanji kepada mama, mulai saat ini abuya tidak akan pernah mengeluh atau marah terhadap masakan yang mama buat atau hidangkan ke abuya. Dan mama bebas memasak makanan apa saja untuk abuya….semua masakan mama akan abuya terima…” Istri ana pun terharu mendengar penuturan ana seperti itu. Ana pun menyadari kalau memakan makanan buatan keluarga seperti istri atau ibu merupakan suatu kenikmatan yang tiada harganya, walaupun makanan itu bukan selera kita atau tidak enak rasanya, namun makanan itu jauh lebih baik dan lebih berharga dari makanan penjara yang ana rasakan. Apalah artinya makanan enak namun terpisah dari keluarga??…

Banyak sekali para tahanan yang mengeluh soal makanan di Rutan. Setiap hari ada saja keluhan dari mereka, bahkan tidak sedikit yang sampai membawa keributan dengan berbagai macam alasan. Ketika kami sedang makan, seseorang tahanan berkata kepada kami (beliau termasuk teman ana berinisial RO, suku Ambon, tubuhnya dipenuhi tatto, wajahnya seram namun hatinya lembut, dia sudah belasan kali ‘R’, yaitu Residivis/mantan narapidana, dan sebagian besar hidupnya dihabiskan di penjara), beliau berkata, “Kalian masih beruntung memakan makanan di Rutan ini. Nanti jika kalian sudah dipindahkan ke Lapas (LP/Lembaga Pemasyarakatan), kalian akan lebih kaget lagi melihat makanan disana. Makanan di Rutan ini masih jauh sangat baik dibandingkan dengan makanan di Lapas, karena makanan di Lapas adalah makanan terburuk yang pernah kalian lihat! Kalian akan memakan makanan tanpa rasa, adapun makanan disini masih ada rasanya walaupun sedikit. Kalian akan memakan makanan serba mentah, adapun disini masih matang. Nasi disini masih sangat baik jika dibandingkan dengan nasi disana, seperti makanan ternak. Sayurnya juga, disana tidak ada sayuran yang dikupas kulitnya, tidak juga dicuci bersih, bahkan dimasak bersama akar-akarnya. Lauknya juga, masih dalam keadaan mentah, seandainya dimasak atau digoreng, hanya dicelupkan saja. Rasakanlah nanti….banyak tahanan yang tidak sanggup memakannya, bahkan mereka akan menangis jika melihatnya. Ada juga yang seminggu tidak sanggup memakannya…dan banyak lagi.

Perkataannya sangat menakuti kami khususnya para tahanan yang belum pernah merasakan makanan di Lapas. Nafsu makan kami jadi hilang seketika karena ceritanya. Ana berharap cerita itu tidak menjadi kenyataan atas diri ana. Semoga ana tidak mengalami seperti yang dialaminya, atau Lapas yang akan ana datangi kelak berbeda dengan Lapasnya, lebih baik dari Lapas yang lain. Tapi itu hanyalah angan-angan belaka, karena apa yang teman ana ceritakan menjadi kenyataan atas diri ana. Makanan Lapas adalah salah satu mimpi buruk setiap tahanan atau narapidana, dan termasuk dalam daftar tambahan mimpi buruk mereka. Pengalaman yang begitu berharga sekali bagi ana dapat merasakan makanan di Lapas. Sesuai dengan cerita teman ana…

Ketika ana di Lapas, ana dapati makanan disana sesuai dengan apa yang teman ana ceritakan. Rasa makanan yang tidak wajar bagi kami, nasi yang bukan berwarna putih melainkan berwarna abu-abu karena banyak kotorannya seperti batu, gabah, dan lainnya, bahkan setiap sesuap nasi akan didapati batu atau gabah di dalamnya. Menurut teman ana yang pernah mengkonsumsi nasi raskin mengatakan bahwa nasi raskin masih lebih baik dari nasi di Lapas. Adapun lauknya adalah telur atau tempe, atau ikan/ikan asin, atau lemak/tetelan, dan lainnya. Kebanyakan lauknya disediakan masih dalam keadaan mentah, seperti tempe yang digoreng hanya dicelup saja kemudian diangkat sehingga kondisinya masih sangat mentah. Begitu juga halnya dengan ikan, masih tercium bau amisnya, dagingnya terasa lunak basah karena tidak matang, bahkan ketika ana makan, isi perutnya masih tersedia dan tidak dibersihkan, masih lengkap dengan usus-ususnya dan kotorannya. Adapun telur rebus, jika orang tersebut belum beruntung, ketika ia buka telur tersebut maka ia akan mendapati telur dalam keadaan busuk dan bau menyengat, sehingga ia terpaksa makan tanpa lauk pada hari itu. Pernah juga menemukan telur rebus yang ketika dibuka dalamnya sudah hampir menjadi embrio ayam. Adakah yang mampu memakannya? Sedangkan sayur beraneka macam kondisinya, tidak semua dikupas kulitnya, dan dimasak bersama kulit langsung, seperti wortel, kentang, dan lainnya. Ada juga yang sama akar-akarnya. Ana tidak tahu apakah juru masaknya lupa membuang akarnya atau memang disengaja? Jika lupa lantas kenapa ini berlangsung seterusnya? Seperti sayur kacang panjang, dipotongnya juga panjang-panjang sesuai dengan namanya, dengan panjang sekitar sejengkal, terpaksa kami potong sendiri supaya tidak ‘kelolokan’. Mayat ulat mengambang di sayur adalah pemandangan yang biasa, jadi tidak perlu merasa aneh sendiri atau manja. Belum lagi box makanannya yang kotor, bau dan tidak pernah dicuci bersih selamanya, dicucinya hanya dicelupkan saja di air cucian yang sudah kotor. Namun semua itu terpaksa kami makan, karena tidak ada lagi selain itu yang bisa kami makan. Kecuali jika ia memiliki uang, ia bisa membeli atau menitip makanan di kantin atau diluar dengan harga yang mahal. Tapi darimana bisa mendapatkan uang di dalam penjara kalau bukan dari orang yang peduli kepada kita seperti keluarga atau saudara? Bagaimana jika tidak memiliki keluarga atau orang yang peduli dan mau membantu? Dia tidak akan bisa memiliki uang sama sekali. Uang di dalam penjara termasuk barang langka. Uang seribu rupiah begitu sangat berharga di dalam penjara, karena tidak sedikit terjadi pertengkaran dan perkelahian hanya karena uang seribu rupiah. Begitu juga dengan sebungkus mie instant yang termasuk barang berharga di dalam penjara.

Ketika di Rutan, kami tidak diperbolehkan memegang uang sama sekali. Jadi kami hanya memakan makanan yang disediakan di Rutan atau kami mengandalkan dari besukan keluarga yang datang membesuk kami dan membawakan makanan untuk kami. Namun jangan harap anda bisa memakan makanan besukan keluarga kalian jika kalian memiliki KM (Kepala Kamar) yang zhalim. Awal-awal ana di Rutan, ana memiliki KM yang zhalim terhadap kami. Setiap ada keluarga yang datang membesuk kami dan membawakan makanan untuk kami dilarang kami menyentuh makanan tersebut padahal itu hak kami dan dari keluarga kami. Makanan tersebut mutlak jadi hak KM, dan dia bebas mengambil dan memakannya tanpa memberikannya ke kami, kecuali jika dia menghendaki untuk menyisakannya sedikit untuk kami. Memang KM kami adalah orang yang sangat rakus terhadap makanan, dia merampas setiap makanan anak buahnya seolah-olah itu adalah haknya. Ana enggan melawannya dikarenakan dia adalah pemimpin kami walaupun dia zhalim. Ana mencoba untuk bersabar terhadapnya, mudah-mudahan dengan kesabaran Allah menggantikannya dengan yang lebih baik. Setiap keluarga ana datang membawakan makanan, langsung dirampas olehnya, dan ana hanya disisakan sedikit olehnya, padahal ana sangat ingin merasakan pemberian dari keluarga ana sendiri. Tidak masalah bagi ana, apalagi itu hanya masalah perut yang tidak pantas diributkan atau dipermasalahkan.

Namun ada yang ana kagum di penjara ini perihal soal makanan, yaitu memiliki kebersamaan yang tinggi walaupun ada juga sebagian yang tidak. Salah satunya adalah, ketika ada makanan besukan datang, maka makanan itu dibagi rata untuk seluruh penghuni kamar, selama KM-nya adil dan tidak zhalim. Sering terjadi sepotong paha ayam dibagi rata menjadi 15 bagian, karena waktu itu penghuni kamarnya ada 15 orang. Jika penghuninya 20 orang maka paha ayam tersebut tetap akan dibagi menjadi 20 bagian. Tahukah jadi sebesar apa paha ayam itu pada tiap-tiap bagian? hanya sebesar kuku! Namun tetap mereka makan dan rasakan walaupun hanya sebesar kuku dan tidak mengenyangkan, yang penting adalah kebersamaan. Begitu juga dengan yang lainnya, nasi bungkus ukuran seporsi dibagi menjadi 15 bagian atau dimakan 10 orang, sebungkus mie instant dimakan 6 orang atau dibagi 15 orang, secangkir kopi diminum oleh 10 orang berganti-gantian, dan banyak lagi lainnya. Ada pemandangan menarik lainnya, ada seseorang dikasih sepotong gorengan atau bakwan. Kebetulan orang tersebut sedang duduk bersama kawan-kawannya. Merasa dikasih sepotong bakwan, maka dia berkewajiban untuk membagi kawan-kawannya tersebut. Dia pun akhirnya membagi sepotong bakwan itu menjadi beberapa bagian dan memberikannya ke kawan-kawannya. Bakwan yang didapat kawannya hanya sedikit karena sudah dibagi banyak, namun karena kawannya itu punya kawan juga, maka dia akhirnya membagi bakwan miliknya itu yang tinggal sedikit menjadi 2 bagian, yang 1 bagian untuk kawannya dan yang 1 bagian lagi untuknya, hingga akhirnya bakwan yang tersisa hanya seujung kelingking, tapi tetap dimakan olehnya. Pemandangan yang membuat ana terkesan di penjara ini…

Kejadian lainnya adalah, Alhamdulillah ada beberapa tahanan yang terbiasa melakukan puasa sunnah (senin kamis). Cara sahurnya begitu unik sekali. Perlu diketahui bahwasanya makanan penjara adalah makanan yang tidak mengenyangkan, namun mereka (orang yang berpuasa) ketika mau berpuasa esok harinya, dia hanya memakan setengah porsi dari makan malamnya, adapun yang setengahnya dia sisakan untuk sahur paginya. Padahal jika dia makan makanan seluruhnya tidak akan mengenyangkannya, namun dia memaksa untuk menyisakannya agar dia bisa sahur esok harinya. Namun apa yang terjadi ketika tiba waktu sahur? Ketika dia akan memakan sisa makanannya untuk sahur, dia dapati makanannya sudah basi! Nasinya sudah berlendir, dan sayurnya juga sudah basi tidak dapat dimakan. Dia coba mengakali agar tetap bisa memakannya. Caranya, dia membuang air pada sayur yang basi tersebut hingga tersisa sayurannya saja, kemudian sayurannya itu disiram air panas lalu dicampur ke nasi, sehingga jadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak sampai disitu, mereka mendatangi tumpukan box makanan bekas makan malam orang-orang semalam. Mereka buka satu persatu box makanan tersebut dengan harapan mereka menemukan bekas makanan orang-orang yang masih tersisa. Iya masih ada beberapa butir nasi atau sesuap nasi di dalam box tersebut. Mereka pun mengambilnya dan mengumpulkannya hingga terkumpul nasi yang cukup untuk mereka makan sahur. Begitulah yang mereka lakukan setiap mereka sahur dan berpuasa.

Itulah sedikit pengalaman ana ketika makan makanan penjara atau yang biasa disebut ‘Nasi Cadong’. Nasi Cadong adalah istilah dari makanan penjara yang sudah populer dikalangan para tahanan atau para ‘R’ (Residivis). Nasi cadong sangat dihinakan oleh mereka-mereka yang memiliki kemampuan harta. Mereka tidak mau memakannya, karena mereka mampu untuk membeli makanan dari luar dengan harta-harta mereka, padahal makanan luar sangat mahal harganya di dalam penjara dan tergolong barang mewah. Tapi tidak untuk kami yang mencoba dan berusaha untuk bersyukur dan mencukupi atas ujian ini. Kami sudah terbiasa makan nasi cadong dengan segala kondisi, anggaplah itu sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas apa yang pernah kita dapatkan dulu ketika kita diatas kenikmatan. Jika kita tidak diberikan ujian seperti itu, maka belum tentu kita bisa atau mampu bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah selama ini. Wallahu a’lam.

Masih banyak cerita tentang nasi cadong di dalam penjara, namun untuk saat ini ana cukupkan sampai disini saja, karena masih banyak yang ingin ana bahas disini selainnya. Seperti masalah yang akan ana bahas berikutnya yaitu masalah tidur di penjara. Ketika ana di penjara, ada beberapa pilihan untuk tidur, diantaranya: tidur berdiri sampai pagi, tidur jongkok sampai pagi, tidur press (lebar 1 meter diisi oleh 5 orang dengan posisi badan miring dan rapat), tidur duduk diatas botol, tidur di kamar mandi, tidur dilantai berbulan-bulan, tidur diatas tripleks, atau tidur diatas kasur? manakah yang akan ana pilih dan ana rasakan?

Bersambung Insya Allah











Masuk Islam Karena Celana Dalam

Mungkin kedengaran aneh dan janggal. Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar masuk islamnya seorang non muslim kedalam islam di sebabkan hal-hal luar biasa dan penting. Seperti dokter Miller seorang penginjil Kanada yang masuk islam setelah menjumpai I’jaz Qur’an dari berbagai segi.Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Ya, masuk Islam gara-gara celana dalam!

Kisah islam
Fhoto oleh Krapow di flickr.com.
Fakta ini dikisahkan Doktor Sholeh Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris. Ada seorang perempuan tua yang biasa mencuci pakaian para mahasiswa Inggris termasuk pakaian dalam mereka.

Tidak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usianya yang sudah terbilang uzur.Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati agar tidak membebani anak mereka. Namun di tengah kondisi seperti itu sepertinya tidak membuat kecil hati tokoh kita ini yang justeru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan cucian kotor.

Wanita baya itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai petugas laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada instansi yang bersedia mempekerjakan para manula.

Aku merasa dihargai meski sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diri sendiri. Anak-anakku sudah menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,” ujarnya.

Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik daripada harus tinggal diam di panti jompo.” Ujarnya lagi dengan wajah sendu.

Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti seorang temanku. Dia juga dulu bekerja sebagai petugas laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” bibi berkisah.

Bagi sang Bibi profesinya sebagai petugas laundry justeru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang, liku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini selain belajar sehari-hari, adalah pergi clubbing sekedar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, café, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.

Dan salah satu sisi negatif pergaulan dengan orang Inggris adalah bila mereka sudah dekat botol miras, biasalah mereka sampai benar-benar mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah merata di sebarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya. Inilah perbuatan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh manusia sejak terciptanya minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, tetapi juga si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).

Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggalah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu setiap hari. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur. Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna dan yang lebih spesifik lagi dipisahkankannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dilakukan dengan penuh dedikasi tinggi walau diujung usianya yang semakin menua.

Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa terus bergelut dengan ‘dunia kotor’nya. Idealnya di penghujung usianya itu seharusnya masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Namun situasilah yang menyebabkan dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan. Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.

Entah sampai kapan dia harus melakoni pekerjaan itu. Maka sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.

Bagi kebanyakan pelajar timur tengah sangat langka memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung kelompok kecil siswa, pasangan atau keluarga. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengijinkan rumah-rumah mereka dikelola dan disewakan.

Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan yang langgeng. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama. Kesadaran inilah yang menepis kekhawatiran akan terjadinya gegar budaya atau “cultural shock“.

Hidup dalam komunitas non muslim-lah justeru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim dimana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan kita sebagai muslim yaitu kesalehan.

Hari-hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi. Namun saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh dan tidak banyak noda dipakaiannya.

Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau.

Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, ”Kami selalu istinja setiap kali kencing.” Pencuci baju ini bertanya lagi, ”Apakah itu diajarkan dalam agamamu?

Ya!” Jawab dua orang pelajar muslim tadi.

Merasa belum yakin 100 persen dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang menemui salah seorang tokoh muslim yaitu Doktor Sholeh– Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ditugaskan ke Inggris– Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama bertugas perihal adanya pakaian dalam yang ‘aneh’.

Ada beberapa pakaian dalam yang tidak berbau seperti kebanyakan mahasiswa umumnya, apa sebabnya? Maka ustadz ini menceritakan karena pemiliknya adalah muslim, agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini.


Betapa terkesan ibu tua ini jika untuk hal yang kecil saja Islam memperhatikan apatah lagi untuk hal yang besar, pikir pencuci baju itu. Dan tidak lama kemudian ia mengikrarkan syahadat, masuk Islam dengan perantaraan pakaian dalam!

Tidak disangka ternyata diam-diam si tukang cuci masuk Islam, gemparlah para mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut, yang kebanyakan adalah non muslim. Mereka berusaha ingin tahu sebab musabab si Bibi masuk islam. Dia menjawab dengan yakin bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslim Arab ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Dan dengan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dirinya dapat membedakan antara pakaian seorang muslim dan non muslim.

Hidayah memang bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar masuk Islamnya seorang non muslim ke dalam Islam lebih disebabkan pada hal-hal luar biasa dan penting. Tapi yang ini benar-benar tidak biasa. Mendapat hidayah di penghujung usia gara-gara pakaian dalam!Sungguh takdir Allah benar-benar telah jatuh berketepatan dengan kegigihannya selama ini mengisi hari-hari di sisa hidupnya sebagai petugas laundry. Disinilah letak rahasia nikmat Allah yang agung yang mempertemukan antara takdir-Nya dan ikhtiar manusia. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal seorang hamba-Nya.

(Di kutip dari: Majalah Al-Qawwam edisi 15, dzul qa’dah 1427 H Badiah, Riyadh )



Selasa, 02 April 2013

Bolehkah Syukuran Rumah Baru

Bolehkah Syukuran Rumah Baru
Fhoto oleh Dkoerber di commons.wikimedia.org.

PENJELASAN PERTAMA

Tanya : Apakah hukumnya melakukan syukuran ketika akan pindah rumah dan hal2 apa yg perlu dilakukan ketika akan pindah rumah menurut tuntunan rasulullah ? (Ibnu Sarbini – abdullahxxx@yahoo.com)

Jawab : Syaikh Al-Fauzan ditanya mengenai masalah ini, maka beliau menjawab, “Tidak mengapa mengadakan pesta (undangan makan) ketika pindah ke rumah baru, dengan mengundang teman-teman dan karib kerabat, jika dia mengerjakannya semata-mata untuk mengungkapkan kesenangan dan kegembiraannya. Adapun jika acara itu disertai dengan keyakinan bahwa acara itu bisa mencegah kejelekan jin, maka mengerjakan amalan ini tidak boleh, karena itu adalah kesyirikan dan keyakinan yang rusak. Adapun jika dikerjakan karena adat, maka tidak masalah.” [Dinukil dari Al-Muntaqa jilid 5 no. 444]

PENJELASAN KEDUA

Dan Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya dengan teks soal sebagai berikut: Telah membudaya di tengah-tengah manusia, bahwa siapa saja yang pindah ke rumah baru atau membeli rumah baru atau dia mendapat pekerjaan atau dia naik jabatan atau yang semisalnya, maka dia mengadakan semacam acara makan-makan. Apa hukum amalan ini?

Beliau menjawab, “Ini termasuk dari pesta-pesta yang mubah, maka boleh bagi seseorang untuk mengadakan acara ketika dia pindah ke rumah baru atau ketika dia lulus -misalnya-. Yang jelas, jika pestanya diadakan karena adanya moment tertentu, maka tidak ada masalah.” [Dinukil dari Fatawa Muhimmah li Muwazhzhifil Ummah]

Wallahu A’lam

Dijawab : Ust Hammad Abu Mu’awiyah


PENJELASAN KETIGA

Pertanyaan:
Ana mau menanyakan bolehkah kita mengadakan tasyakuran dengan mengundang para kerabat untuk membaca surat yasiin bersama yang biasanya diadakan dalam rangka kelulusan ujian atau sedang mendapat suatu nikmat bahkan dalam rangka kita menempati rumah baru? kalau tidak boleh, lantas bagaimana cara kita untuk mengekspresikan rasa syukur kita? Mohon dijawab, dan syukron sebelumnya.


Jawaban:
Untuk pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan:

Pertama, kegiatan/acara kegembiraan yang dilakukan dalam rangka kelulusan, kenaikan jabatan, penempatan rumah baru, dan semisalnya tidaklah mengapa selama maksud pelaksanaannya sekadar kegembiraan akan suatu nikmat yang Allah berikan kepadanya, bukan dengan maksud ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah. Kalau dengan maksud ibadah, pelaksanaan kegiatan/acara tersebut tentu akan tergolong ke dalam bentuk bid’ah dalam agama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak dibangun di atas tuntunan kami, amalan tersebut tertolak.” [1]

Kedua, pengkhususan pembacaan surah Yâsîn pada acara seperti ini adalah hal yang tidak disyariatkan karena tidak ada dalil yang menunjukkan penganjuran hal tersebut, sementara suatu ibadah tidaklah boleh dilakukan, kecuali berdasarkan dalil Al-Qur`an dan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan membaca Yasin pada acara hajatan dan selainnya, tetapi seluruh hadits tersebut lemah, tidak boleh dijadikan sebagai sandaran hukum[2].

Ketiga, apabila kegiatan/acara diselenggarakan dalam rangka kegembiraan atau kesyukuran, kita harus memperhatikan beberapa hal:

Kegiatan tersebut bukan suatu hal yang berulang. Hal ini karena suatu kegiatan kegembiraan yang berulang-ulang -dalam sepekan atau setahun- dianggap sebagai bid’ah. Dimaklumi bahwa hari raya menurut Islam hanyalah tiga hari: hari Jum’at, hari Idul Fitri
, dan hari Idul Adha. Selain ketiga hari itu adalah perayaan yang dianggap bid’ah dalam agama.

Tidak boleh berlebihan dan mubadzir dalam kegiatan kegembiraan tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا.

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan, sementara syaithan itu sangat ingkar kepada Rabbnya.” [Al-Isrâ`: 26-27]

Dilakukan dalam kadar dan jumlah yang wajar, bukan seperti pesta yang menghadirkan ratusan orang.

Keempat, seorang hamba yang mendapat suatu nikmat punya banyak cara untuk mengekspresikan kesyukurannya. Pada dasarnya, seorang hamba dikatakan bersyukur dengan lima pondasi[3]:

-Ketundukan hamba kepada Rabb-nya, yang untuk-Nya segala kesyukuran.
-Kecintaan hamba kepada Rabb-nya, yang berasal dari-Nya segala nikmat.
-Pengakuan dalam hati bahwa segala nikmat datang dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan milik Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
-Pujian hamba dengan lisannya terhadap segala nikmat yang dia dapatkan.
-Penggunaan nikmat-nikmat tersebut pada hal-hal yang Allah ‘Azza wa Jalla cintai dan ridhai.

Dengan berpijak di atas pondasi-pondasi tersebut, seorang hamba semakin banyak mendekatkan dirinya kepada Allah pada setiap nikmat yang dia dapatkan. 

Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bertutur,

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا

Sesungguhnya Nabi Allah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan qiyamul lail sampai kedua kaki beliau pecah-pecah maka saya bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan ini, wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang?’ Beliau pun menjawab, ‘Tidak (bolehkah) saya suka menjadi hamba yang bersyukur?’.” [4]

Demikian jawaban untuk pertanyaan ini, dengan mengingat bahwa tiga poin pertama jawaban tersebut kami sarikan dari fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fatâwâ Nûrun ‘Alâ Ad-Darb.

Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

==============================

[1] Diriwayatkan oleh Muslim.
[2] Bacalah tulisan kami perihal hadits-hadits lemah seputar keutamaan surah Yâsin pada Majalah An-Nashihah vol. 06 hal. 49-59.
[3] Bacalah Madârij As-Sâlikîn karya Ibnul Qayyim rahimahullâh.
[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry, Muslim, At-Tirmidzy, An-Nasâ`iy, dan Ibnu Mâjah dari hadits Al-Mughîrah bin Syu’bah radhiyallâhu ‘anhu.



Wafatnya Ulama Pakistan, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir

Menelusuri Jejak atsar dari Ulama Pakistan, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir

Nama dan nasab beliau, Ihsan Ilahi Zhahir bin Zhuhur Ilahi bin Ahmduddin bin Nizhamuddin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang saudara beliau yang bernama Syaikh Fadhl Ilahi menjelaskan bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir lahir pada tahun 1940 di kota Siyalkut. Yaitu sebuah kota tua di Pakistan, di sebelah utara kota Propinsi Punjab. Kota ini terkenal dengan kelahiran tokoh-tokoh dan ulama. Dan lingkungan yang sangat subur dengan ulama, tentu sangat kondusif bagi perkembangan seorang anak. Demikian juga dengan keberadaan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir disana.

Keluarga besarnya sangat populer dengan perniagaan berbagai macam kain. Ketinggian tingkat keilmuan dan semangat juang untuk membela agama serta kelimpahan harta benda juga menjadi penghias yang melekat pada keluarga besarnya.

Ayahnya seorang pedagang kain yang terkenal dengan amanahnya, dan juga termasuk orang yang mencintai ulama dan giat mendakwahkan aqidah salaf, dengan menyibukkan diri berceramah di beberapa masjid. Ia telah memilihkan jalan bagi anak-anaknya agar menjadi para penyeru (da’i) di jalan Allah. Oleh karena itu, ia sangat memperhatikan proses pendidikan anak-anaknya dengan baik.

Sang ayah semenjak dini meminta Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir agar menghabiskan waktunya untuk senang mencari ilmu agama, jangan memikirkan mata pencaharian dahulu. Bahkan semua anggota keluarganya pun mempunyai pemikiran yang sama, mendukung Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir agar secara sungguh-sungguh mencurahkan thalabul ilmi dan berdakwah, meskipun yang menjadi taruhannya adalah harta.

Bukti keseriusan ayahnya nampak yaitu tatkala Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir masih di bangku sekolah dasar. Kendatipun pihak sekolah sudah memberikan jatah snack bagi para siswanya, namun beliau malah melarang anaknya untuk memakannya. Sebagai gantinya, sang ayah membawakan makanan, jus dan susu. Sebab menurutnya, hal itu lebih bermanfaat bagi fisiknya daripada makanan sekolah. Bahkan tidak sampai disitu, sang ayahpun tidak segan-segan untuk memijit anaknya dengan olesan minyak agar fisik anaknya tersebut menjadi sehat. Apalagi dengan kebutuhan primer sekolah lainnya seperti buku-buku pelajaran, juga tidak luput dari perhatian keluarganya. Segala daya upaya diusahakan agar sang anak dapat belajar dengan nyaman.

Ibunya juga mempunyai orientasi dan komitmen yang jelas dalam mendidik anaknya diatas manhaj salaf. Dia seorang wanita yang tekun beribadah, bershaum sehingga menurunkan pengaruh besar pada pembentukan kepribadian anak-anaknya. Tidak terkecuai pula pada diri Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir.

Semenjak kecil, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir sudah terkenal dengan kecerdasannya. Demikian juga kecintaannya terhadap ilmu. Para ulama semakin mendukungnya untuk dapat mendulang ilmu yang banyak. Semenjak usia 9 tahun, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir kecil sudah menghafal al-Qur'an. Di tempatnya belajar, yaitu Madrasah asy-Syihabiyah, menuntaskan pendidikan dasar dan menengahnya, para dewan guru sangat mengaguminya. Setelah itu, beliau memperdalam ilmu-ilmu agama di Jami’ah Muhammadiyah, salah satu Universitas Salafiyyah terbesar di Pakistan. Beliau menyelesaikan studinya di universitas yang berlokasi di Faishal Abad tersebut pada tahun 1961. setelah itu, berguru kepada seorang pakar hadits yang bernama Syaikh Muhammad al-Jandalwi. Kemudian pada tahun 1963, ia berkesempatan untuk menimba ilmu di kota Rasul, Madinah, tepatnya di Jami’ah Islamiyyah. Ulama-ulama besar berhasil ditemuinya untuk dijadikan rujukan ilmiah.

Sumber fhoto: wikipedia.org.
Tentang ketekunannya saat berada di bangku Jami’ah Islamiyyah, Dr. Luqman as-Salafi, teman sekelasnya menceritakan, “Aku telah mengenal mujahid ini yang nyawanya dikorbankan di jalan Allah sejak 25 tahun yang lalu, tatkala kami duduk berdampingan di bangku kuliah Universitas Islam Madinah pada tahun enampuluhan. Aku dapati ia sebagai seorang mahasiswa yang cerdas, pintar, kemampuannya diatas kawan-kawannya dalam mata kuliah, penelitian dan diskusi. Mempunyai hafalan ribuan hadits. Saat jam istirahat, is selalu mengikuti pakar hadits abad ini (yaitu) Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Ia biasa bersama beliau di halaman kampus, meskipun harus duduk diatas pasir (tanah) untuk melontarkan pertanyaan seputar hadits, ilmu mushthalah. Di Madinah, tepatnya di fakultas Syariah, ia menuntaskannya dalam kurun waktu empat tahun dengan predikat summa cumlaude pada tahun 1967, dengan menempati rangking pertama untuk angkatan ketiga. Pihak kampus akhirnya menawarinya untuk menjadi staf pengajar namun ia menjawab, “Sesungguhnya negeriku lebih membutuhkanku”.

Sesampainya di kampung halaman untuk memulai dakwah, ia mencermati bahwa masyarakatnya kurang menghargai ilmu agama. Dan menurut mereka, orang yang disebut ulama tidak mempunyai kemampuan untuk meresapi apa yang mereka sebut sebagai “ilmu-ilmu modern”. Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir ingin membalikkan asumsi mereka. Dengan ketekunannya, akhirnya ia mampu mengantongi berbagai gelar master pada ilmu-ilmu bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Urdu dan Inggris, master dalam hukum dan politik.

Sebenarnya kitab-kitab yang ia tulis sudah jelas menggambarkan komitmennya kepada manhaj salaf. Namun ada baiknya kita melihat selintas tentang akidahnya melalui penuturannya sendiri, “Tidak ada barometer untuk mengetahui kejujuran dari kedustaan, kebenarana dari kebatilan, kebaikan dari kejelekan, kebaikan dari keburukan kecuali al-Kitab (al-Qur'an) dan as-Sunnah. Setiap pendapat yang bertentangan dengan firman Allah dan setiap tindakan yang berlawanan dengan praktek Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka harus ditinggalkan lagi tertolak, tidak perlu diperhatikan ataupun dilirik, baik muncul dari tokoh besar, orang kecil, orang bertakwa ataupun manusia celaka. Sebab, kaum mukminin tidak terikat dengan individu dan pemikiran mereka, justru mereka itu diperintahkan untuk mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah “[1].

Diantara ulama besar yang pernah memoles beliau sebelum bertolak ke Madinah ialah Syaikh Muhammad al-Jandalwi, Abul Barakat Ahmad bin Isma’il, keduanya dikenal sebagai pakar hadits. Sesampainya di Madinah, ia sempat berguru kepada Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithy (penulis tafsir adhwau al Bayan), Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim, Syaikh Hammad al-Anshari, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dan lain-lain.

Sejak menjadi mahasiswa di Jami’ah Islamiyyah Madinah, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mempunyai kegemaran menulis. Hasil karyanya yang pertama yaitu kitab al-Qadiyaniyah[2] yang sebelumnya berbentuk tulisan-tulisan berseri yang diterbitkan oleh majalah Hadharah al-Islam. Majalah ini biasa menjadi tempat ulama dan penulis besar untuk menggoreskan tintanya.

Ada beberapa ciri khas pada gaya penulisan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dalam buku-buku yang ditulisnya, yang jarang ditemukan pada penulisan di abad sekarang.

Penyanggahan firqah dan pemikirannya melalui pernyataan dan referensi asli mereka.Kutipan-kutipannya selalu dari kitab-kitab standar mereka atau perkataan yang keluar dari pernyataan tokoh-tokohnya.

Usaha komparasi dan penelusuran akar bid’ah pada agama lain. Kajian-kajiannya tentang golongan-golongan dalam Islam diikuti dengan perbandingan unsur-unsur kesamaan dengan agama dan golongan-golongan lainnya. Misalnya, ia membandingkan kemiripan antara Syi’ah dengan Sufiyah, tasawwuf dengan ritual yang ada di agama Nashara.

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mengatakan, “Kami tidak merasa cukup dengan membawakan nash dari kitab Sufiyah, tetapi kami juga menyertakan nash yang mirip yang berasal dari agama-agama selain Islam"[3].

Menghimpun semua pernyataan, tidak cukup dengan satu saja. Ini merupakan usaha yang paling sulit. Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir membawakan berbagai riwayat supaya mendapatkan kekuatan berhujjah dalam membawakan argumentasi “menyerang musuh” sehingga musuh tidak berkutik lagi.

Penelaahan yang luas pada sebuah obyek penulisan. Dengan jelas, hal ini terbukti pada penulisan sebuah kitab, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir membaca lebih dari tiga ratus bahan yang terdiri dari kitab dan makalah seputar obyek pembahasan.

Ciri khas yang terakhir terletak pada kekuatan beliau dalam mematahkan argumentasi “musuh”.

Meskipun beliau sangat sibuk dalam berdakwah, namun beliau masih menyempatkan waktu untuk mendidik anak-anak beliau yang berjumlah tiga orang.

Ibtisam, anak tertua mengisahkan, “Ayah sudah menanamkan pada hatiku kecintaan kepada aqidah Islamiyyah dan membaca kitab-kitab salaful Ummah. Pernah beliau mengajakku ke sebuah seminar dan ceramah-ceramah dan menyuruhku untuk berceramah supaya aku terbiasa berbicara di depan orang”.

Tulisan-tulisan beliau lebih banyak berkutat pada “penyerangan” terhadap firqah-firqah sesat, baik yang berskala lokal (di pakistan saja) maupun yang berskala internasional, seperti Qadiyaniyah  Ahmadiyyah), Syi’ah, Babiyah, Bahaiyyah, Sufiyyah. Beberapa contoh firqah yang beliau angkat dalam sebuah tulisan, sebagian sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Beliau senantiasa menyibukkan diri dengan dakwah sampai akhirnya Allah menentukan takdir ajalnya.

Hari itu, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mendatangi suatu pertemuan ilmiah para ulama yang diselenggarakan oleh Jum’iyyah Ahli al-hadits di Lahore pada tanggal 23-7-1407 H. Dihadiri oleh 2000 peserta. Malam sudah larut, tepatnya jam 23.00. pada saat itu, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir maju untuk mengutarakan ceramahnya di atas podium. Setelah 22 menit berceramah, tiba-tiba sebuah bom meledak dari bawah panggung. Sembilan orang tewas seketika, 114 orang cedera berat dan ringan. Beberapa gedung dan rumah yang berdekatan dengan tempat kejadian runtuh. Sementara syaikh terlempar sekitar 20 meter dari tempatnya. Bagian tubuh kiri beliau mengalami luka parah, namun beliau masih sadar. Bahkan berusaha untuk meneruskan pembicaraannya.

Beliau dibawa menuju rumah sakit di Lahore. Akhirnya dengan rekomendasi Syaikh bin Baz kepada Khadimul Haramain Raja Fahd, pihak kerajaan Saudi siap untuk mengambil alih pengobatannya. Begitu sampai di kota Riyadh, para ulama, para pejabat negara menyambut kedatangan beliau. Beliau dirawat di rumah sakit militer. Para dokter memutuskan agar kaki beliau diamputasi, tetapi Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menolaknya. Dan pada hari Senin pagi jam 04.00, tanggal 1 Sya’ban 1407 H, bertepatan dengan tanggal 30 Maret 1987, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kesedihan menyayat masyarakat Riyadh. Pada hari itu, sekolah-sekolah diliburkan. Demikian juga toko-toko di dekat masjid al-Jami’ al-Kabir ditutup. Orang-orang berdesakan menshalati Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dengan dipimpin oleh Syaikh bin Baz. Sementara itu, masyarakat di tiga kota di Pakistan, yaitu Islamabad, Lahore dan Karachi menutup tempat-tempat perniagaan mereka, lantaran kesedihan yang mendalam atas meninggalnya sang mujahid.

Setelah itu, jenazah diterbangkan ke kota Madinah untuk dishalatkan di masjid Nabawi dan selanjutnya dimakamkan di Baqi. Sambutan masyarakat Madinah begitu antusias. Para ulama, mahasiswa dan masyarakat Madinah turut berduka cita atas meninggalnya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir yang menjadi musuh besar Syi’ah setelah Syaikh Muhibuddin al-Khathib meninggal.

Sebuah kematian yang indah setelah mengisi usia dengan perjuangan dan pengorbanan demi Islam di berbagai negara. Dr. Luqman as-Salafi menyatakan beliau seolah-olah bagaikan pembela bagi Islam. Sehari sebelum peristiwa meledaknya bom, beliau sedang duduk dalam acara debat yang berlangsung selama 6.30 jam dengan pihak-pihak yang meminta penetapkan Fiqih Hanafi Ja’fari dengan fiqih-fikih yang lain. Beliau menjawab, “Kami tidak menginginkan sebuah pengganti bagi al-Qur'an dan as-Sunnah”. Nampak dalam perdebatan ini, bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir sangat kuat pendiriannya dalam membela al-Haq. Hingga, kemudian pada hari kedua, para hakim memutuskan hasil sidang bahwa kebenaran berada di pihak Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir.

Kegigihan beliau membasmi firqah-firqah sesat melalui tulisan maupun ceramah-ceramah sangatlah kentara. Akibatnya beliau mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan. Intimidasi ancaman bunuh via telepon ataupun surat sudah biasa beliau terima. Di Amerika, bahkan beliau pernah mengalami percobaan pembunuhan atas dirinya. Al-Khumaini pemimpin Syiah di Iran pernah pula membuat maklumat yang isinya “Barangsiapa yang dapat membawa kepala Ihsan (Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir) niscaya ia akan mendapatkan 200 ribu dolar”. Ada juga yang mengatakan, “Siapa saja yang berhasil membawa kepala Ihsan, ia adalah orang yang syahid”. Beliau juga pernah terkena tembakan peluru.

Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menyadari pilihan beliau dengan menghabiskan usia untuk berdakwah, terutama dalam usaha mengoreksi golongan-golongan yang sesat, akan menghantarkan pada kesibukan yang luar biasa dan ancaman bahaya. Begitu pula segala jenis intimidasi diatas, lantaran kegigihan beliau dalam mengoreksi penyimpangan-penyimpangan golongan-golongan yang mengklaim diri sebagai bagian dari Islam, namun ternyata jauh panggang dari apinya.

Adapun pujian-pujian kepada beliau secara otomatis muncul langsung dari ulama-ulama yang pernah mengenalnya. Sebagai misal, pujian yang datang dari Syaikh bin Baz, beliau mengatakan, “Ia adalah orang yang sangat baik. Kami mengenalnya sarat dengan ilmu dan keutamaan, aqidahnya bagus. Semoga Allah mengampuninya”.

Meskipun Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir telah pergi meninggalkan dunia fana, tetapi buku-buku beliau masih saja menjadi musuh abadi bagi golongan-golongan yang dahulu diserang.

Semoga Allah menerima amal kebaikan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dan menempatkan beliau di surga yang paling tinggi.

(diringkas dari kitab asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, Manhajuhu wa Juhuduhu fi Taqribi al-‘Aqidah wa ar-Raddi ‘ala al-Firaqi adh-Dhallah, karya Dr. ‘Ali bin Musa az-Zahrani, Daru al-Muslim, Riyadh. Cet-1 th. 1425 H/2004, sebuah thesis dari jurusan ‘Aqidah Universitas Ummul Qura’)
Disalin dari Majalah as-Sunnah, “Baituna” Rubrik Syakhshiyah . Edisi 01/tahun X/1427 H/2006. hal. 08-10.
====================
[1] Dirasat fi at Tashawwuf, karya beliau hal. 12
[2] Mengungkap kerusakan Ahmadiyah
[3] At-Tashawwuf, al-Mansya’ wal al-Mashadir, hal. 8

Sumber : habibieihsan.blogspot.com